PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN

PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN
PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN

PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN

PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN
PENDIDIKAN PKN PERANAN PANTI ASUHAN
Keluarga merupakan tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan saudara kandung menjadi tempat utama bagi individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi pertama kalinya, agar dapat tumbuh utuh secara mental, spiritual dan sosial. Orang tua mempunyai peran penting untuk menumbuhkan faktor psikologis anak yang terdiri atas rasa aman, kasih sayang dan harga diri.
Terpenuhinya kebutuhan psikologis anak akan membantu perkembangan psikologis secara baik dan sehat. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus terpisah dari keluarga karena alasan tertentu, seperti menjadi yatim piatu, tidak mampu dan terlantar, sehingga kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi secara wajar. Permasalahan tersebut membuat anak menjadi lemah dan tidak berdaya. Hal tersebut diperparah dengan kondisi tidak adanya orang yang dapat diajak berbagi cerita atau dijadikan panutan dalam menyelesaikan masalah.
Masalah yang terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan anak tersebut terganggu dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak terlantar inilah yang dipelihara oleh pemerintah maupun swasta dalam suatu lembaga yang disebut panti asuhan. Tempat itulah yang selanjutnya dianggap sebagai pengganti keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak dalam proses perkembangannya. Pada saat anak melewati masa remaja, pemenuhan kebutuhan fisik, psikis dan sosial juga sangat dibutuhkan bagi perkembangan kepribadiannya karena pada masa remaja dianggap sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa transisi tersebut, remaja mengalami berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik, psikis dan sosial.

Anak adalah pewaris dari generasi tua yang menjadi tumpuan keluarga, bangsa dan agama. Dalam keluarga anak akan terbentuk kepribadiannya, anak-anak kelak akan hidup sesuai dengan norma-norma yang telah diperoleh. Masa kecil anak adalah masa yang sangat menentukan, karena itu masa kecil yang tidak bahagia akan dibawa sampai dewasa, kebahagiaan masa kecil anak ini biasanya ditemukan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan baik dalam arti keluarga yang utuh dan ada bapak dan ibu.

Anak-anak yang tidak memiliki keluarga inilah nantinya yang akan menjadi tanggungan negara sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 34 ayat (1) Undang-undang 1945 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” dan Undang-undang Nomor : 4 Tahun 1979 tentang “Kesejahteraan Anak”. Penyelesaian masalah sosial yang terkait dengan masalah anak, dalam hal ini pemerintah dalam menangani masalah-masalah sosial memerlukan partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dapat berbentuk uluran tangan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan kasih sayang, dapat juga berupa kesediaan menjadi orang tua asuh dari anak-anak terlantar/tidak mampu.
Menurut Muzamil (2000 : 5) panti asuhan adalah suatu lembaga usaha Kesejahteraan Sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan serta pelayanan pengganti orang tua/wali dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental serta sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, cepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya.
Panti Asuhan berupaya untuk mendidik dan mengurusi anak agar perkembangan mental, spiritual dan sosial anak dapat berkembang dengan baik. Mental adalah suatu kemampuan menyesuaikan diri yang serius sifatnya yang mengakibatkan kemampuan tertentu dan pencapaian tertentu (Kamus Psikologi I), upaya yang dilakukan panti asuhan untuk meningkatkan perkembangan mental anak adalah dengan memberikan pendidikan agama, sehingga meningkatkan Keimanan anak asuh terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menjadi spiritual berarti memiliki ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material (Hasan, 288). Hal yang bersifat kerohanian yang dimaksud adalah Tuhan Yang Maha Esa, jadi yang dilakukan panti untuk meningkatkan perkembangan spiritual adalah sama dengan perkembangan mental yaitu dengan memberikan pendidikan agama sesuai dengan agama dari anak asuh.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagi aspek kehidupan sosial, norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Yusuf 2012 : 122). Untuk itu bimbingan yang diberikan panti asuhan terhadap anak asuh dalam perkembangan sosial anak adalah dengan memberikan suri tauladan yang baik bagaimana cara bersosialisasi dengan lingkungan, baik lingkungan panti asuhan maupun masyarakat sekitar. Misalnya dengan tegur sapa apabila bertemu dengan orang lain, bersikap sopan dimana saja dan lain sebagainya.
Berdasarkan data yang ada di Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga, baik swasta maupun dari pemerintah terdapat 92 Panti Asuhan yatim piatu di Kota X. Dari sekian panti asuhan tersebut ada yang berbasis agama islam maupun non islam. Salah satu panti asuhan yang islam yaitu Panti Asuhan Z.