Mengasah Komitmen

Mengasah Komitmen
Mengasah Komitmen

Table of Contents

Mengasah Komitmen

Mengasah Komitmen
Mengasah Komitmen

Yosi Novlan dan N. Faqih Syarif H mendefinisikan komitmen adalah keyakinan dasar yang mengikat sedemikian kukuhnya sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkan perilaku menuju kearah tertentu yang diyakininya. Berikut cara membangun komitmen sebagai negosiator :

  • Yakini bahwa pekerjaan sebagai negosiator adalah pekerjaan penting. Tanpa ada kegiatan negosiasi, suatu usaha tidak akan pernah menghasilkan keuntungan yang optimal
  • Yakini bahwa pekerjaan sebagai negsiator menjanjikan masa depanyakini bahwa semua pekerjaan pasti mempunyai risiko
  • Yakini bahwa pekerjaan apa pun bila dilaksanakan dengan tidak sepenuh hati hasilnya pasti tidak maksimal
  • Yakini bahwa ketika mengalami kegagalan dan tantangan hanyalah sebuah ujian, dan sebaliknya bila menemukan keberhasilan hanyalah sebuah ujian

Mengasah Etos Belajar

Andreas Harfera membagi dua proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran melalui hal-hal yang menyenangkan dan sebaliknya proses pembelajaran melalui hal-hal yang menderitakan. Andreas Harfera memberi jalan pemikiran dengan cara menggeser paradigm yang bersifat esensial dan eksistensial, yang prosesnya pastilah tidak menyenangkan, yakni harus melalui disiplin dalam penderitaan. Pergeseran tersebut bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dilakukan secara sadar, sukarela, dan proaktif antisipatif, atau dilakukan secara terpaksa yang umumnya dipicu oleh peristiwa traumatis. Ini semua sebenarnya menyanggut tentang bagaimana kita mengambil hikmah dari sesuatu. Hikmah adalah esensi dari proses konversi dari realitas atau fakta menjadi nilai.

Mengasah Kepekaan

Budayawan Ronggo Warsito merekomendasikan agar orang itu “eling lan waspodho” (manusia harus selalu ingat tentang segala sesuatu dan waspada terhadap segala kemungkinan). Sunan Kalijaga salah seorang wali da’i jawa memperoleh kepekaan spiritualnya setelah melalui tapabrata (bersemedi di pinggir kali). Sedangkan nabi Ibrahim AS memperoleh kesadaran keimanannya dengan cara mempertanyakan segala sesuatu cara terakhir ini yang paling efektif dan sederhana yang dapat dilakukan oleh manusia di zaman sekarang. Hakikat dari bertanya sesungguhnya adalah keiatan mengidentifikasi atau memaknai segala seuatu. Kepekaan memaknai sesuatu itu dapat meliputi 3 macam, yaitu :

  • Kecepatan memaknai
  • Ketepatan
  • Variasi