Manusia Ditinjau dari Sudut Budaya

Manusia Ditinjau dari Sudut Budaya

Manusia Ditinjau dari Sudut Budaya

Manusia Ditinjau dari Sudut Budaya

Bila manusia ditinjau dari sudut budaya

maka yang menjadi titik pengamatan adalah seluruh hasil aktivitas tingkah lakunya dalam bentuk karya. Karena satu-satunya keunggulan manusia dalam berkarya adalah merubah keterhamparan alam yang serba pasif menjadi berfungsi  sehingga memiliki nilai tambah.

       Aktivitas karya-karya manusia berawal darimerubah hamparan alam yang serba pasif, tahap demi tahap manusia mulai menguasai alam. Dengan kata lain ketergantungan manusia menggunakan akal pikiran. Pada awalnya alam dianggap angker, rimba raya dianggapberpenghuni, pohon-pohon besar diberi sesajen, hutan belantara dibiarkan tumbuh karena dianggaptersinggung penghuninya bila diganggu, kini telah berubah drastis.

       Tahapan-tahapan perubahan cara berpikir melalui penggunaan akal pikiran menghasilkan sejumlah hasil karyamanusia dalam bentuk teknologi serba efektif, behasil guna dan berdaya guna. Tranportasi menggunakan hewan tunggang, berganti dengan alat-alat transportasi serba canggih. Mulai dari beberapa jenis hewan tunggangan beralih ke sepeda, dokar, becak, melejit silih berganti kepada penciptaan berbagai jenis kendaraan beroda dua, beroda empat, pesawat terbang, kereta api sampai kepada jeis-jenis pesawat luar angkasa.

       Demikian halnya dengan alat-alat komunikasi, berawal dari kentongan selanjutnya kepada model-model alat komunikasi yang praktis berdasarkan generasi penciptanya.

       Disisi lain, akses terhadap manusia ditinjau dari sudut budaya menjangkau pula penataan nilai-nilai yang seharusnya menjadi suatu keharusan dijunjung tinggi. Namun realitasnya menunjukkan adanya involution , sementara disatu pihak  hak-hak asasi dan martabat sesama manusia semakin dicanangkan dan semakin terkoyak. Hal ini merupakan dilema sepanjang sikluas kehidupan manusia terjebak dalam pretensi ego yang tak terkendali. Menifestasinya tampil dalam bentuk-bentuk keinginan menguasai, rapuhnya pengendalian diri, kesewenangan, kekuasaan tak terbatas, sifat serakah denagn ciri otoriter yang melahirkan tirani.

       Pengahargaan bukan merupakan suatu hadiah, pemberian, atau ada karena sesuatu yang diingini maka penghargaan harus selalu ditonjolkan  bahkan berlebih-lebihan. Bila hal ini terjadi, berarti manusia telah kehilangan martabat dan harga diri. Maka terbentuklah sikap ingin selalu diuja, sifat menjilat, dan pada gilirannya akan terjerumuske dalam pemuasan segala-galanya tanpa mengenal batas. Bahkan ada menjadi kebiasaan menyalahkan yang benar, membengkokkan yang lurus. Kondisi seperi itu pasti akan  megundang konflik yang berkepanjangan. Itulah sebabnya untuk menguasai penonjolan sikap dan sifat seperti disebutkan, maka setiap manusia harus menyadari  keberadaan dirinya yang serba  terhubung dengan Tuhan Yang Maha Esa,  terhubung dengan sesamanya manusia dan terhubung dengan lingkungannya. Komponen-komponen yang disebutkan inilah yang berfungsi memberi makna terdalam terhadap  kebenaran dirinya yang mampu menumbuhkembangkan citra citra kemanusiaan didalam sifat manusiawi yang hakiki.


Sumber:

https://penirumherbal.co.id/1line-apk/