Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban? Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban

Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban
Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban

Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban? Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban

Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban
Bolehkah Panitia Menjual Kulit Hewan Qurban Berikut 33 Tanya Jawab Ustaz Abdul Somad Tentang Qurban

Besok, semua umat islam termasuk di Indonesia akan menyambut Idul Adha, atau yang biasa disebut dengan Idul Qurban,

atau juga hari raya haji. Lalu, sudah taukah anda tata cara dan hukum berkuban? Berikut adalah 33 tanya jawab soal kurban oleh Ustaz Abdul Somad.

1. Apakah makna Qurban dan kapan disyariatkan?

Dalam bahasa Arab, Qurban dikenal dengan nama al-Udh-hiyyah, maknanya menurut bahasa adalah hewan yang dikurbankan, atau hewan yang disembelih pada hari Idhul Adha. Sedangkan menurut Ahli Fiqh, al-Udh-hiyyah didefenisikan sebagai berikut:

“Hewan yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sejak hari Idul Adha hingga ke hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

2. Kapan Ibadah Qurban dan disyariatkan?

 

Dalam ajaran Islam, ibadah Qurban disyari’atkan pada tahun kedua Hijriah. Dilihat dari aspek sejarah

, ibadah Qurban telah ada sejak zaman Nabi Adam AS, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an:

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Qs. al-Ma’idah [5]: 27). Kemudian ibadah Qurban juga dilaksanakan oleh Khalîlullâh Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah SWT: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia

menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah

kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan

Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” (Qs. ash-Shaffaat [37]: 102-107).

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/1zBe/history-of-the-singasari-kingdom