5 CARA KRITIS MAHASISWA DALAM MENGHADAPI HOAKS

5 CARA KRITIS MAHASISWA DALAM MENGHADAPI HOAKS

Mahasiswa termasuk di antara pemakai media sosial dalam jumlah terbesar di dunia. Tidak melulu untuk berinteraksi dan ajang berekspresi, mahasiswa juga perlu informasi. Tidak perlu menantikan masa kampanye politik, gosip dan kabar bohong, alias hoaks pun bertebaran di sini. Apa teknik kritis mahasiswa hadapi hoaks?

Sebelumnya, mahasiswa mesti mengetahui dengan benar dulu tentang hoaks. Tidak melulu ciri-cirinya, namun pun bahayanya. Apalagi, arus penyebaran informasi yang super cepat lewat media sosial pun mempengaruhi perilaku user. Hanya baca sekilas tanpa memahami, kemudian langsung share.

Nah, mahasiswa yang cerdas usahakan tidak ikut-ikutan laksana itu. Inilah lima (5) teknik kritis mahasiswa hadapi hoaks, supaya tidak ikut meningkatkan kepanikan yang tidak perlu:

Membaca lebih dari sekali sebelum menyimpulkan untuk share

Ingat, sebagai mahasiswa, anda dituntut untuk tidak sedikit membaca, menganalisis, dan beranggapan kritis. Bila kitab kuliah tebal saja anda sanggup membaca, lagipula artikel pendek berkategori ‘antah-berantah’ di dunia maya.

Beberapa ciri berita hoaks merupakan: judulnya yang bombastis (kadang gunakan tanda seru berlebihan), alamat website memunculkan kecurigaan (lebih serupa blog individu ketimbang situs resmi media), sampai isi beritanya yang tidak didasarkan kenyataan jelas. Bahkan, dalam sejumlah kasus terdapat kalimat dengan typo yang paling parah.

Isi berita pun kebanyakan menyebarkan kebencian atau pemujaan berlebihan terhadap segala sesuatu atau seseorang.

Mencari sumber tulisan dari media beda sebagai perbandingan
Bila saat menggarap skripsi atau disertasi butuh sekian banyak sumber, ini pun berlaku guna meyakinkan berita tertentu bukan hoaks. Untuk teknik kritis mahasiswa hadapi hoaks, carilah sumber tulisan dari media beda sebagai perbandingan. (Itu bila kamu beneran penasaran dengan berita tersebut, lho.)

Misalnya: kamu hendak mengetahui berita terbaru mengenai politisi tertentu. Bila berita yang anda terima mencurigakan, jajaki bandingkan dengan paling tidak tiga sumber tulisan dari media sah lainnya. Bila tidak cocok atau terdapat media yang mengklarifikasi kabar tersebut, berarti tulisan kesatu ialah hoaks.

Konfirmasi dengan rekan yang seminat atau bahkan dosen
Masih penasaran pun dengan kebenaran tulisan itu? Di samping membandingkannya dengan sumber tulisan lain, kamu pun boleh bertukar pikiran dengan rekan yang seminat atau bahkan dosen. Tapi, pastikan rekan bukan tipe penyebar hoaks dan dosennya pun terpercaya.

Jangan gampang terpancing emosi dengan rekan yang kegemaran menyebar hoaks
Sekarang telah zaman mahasiswa menciptakan grup Whatsapp atau media sosial lainnya. Misalnya: grup Whatsapp guna satu angkatan sampai satu jurusan. Selain guna menjalin kekariban alias networking, grup ini bermanfaat sebagai lokasi saling berbagi informasi.

Sayangnya, terdapat saja rekan yang kegemaran menyebar hoaks. Daripada gampang terpancing emosi, lebih baik anda tegur dia baik-baik secara pribadi. Lengkapi pun dengan bukti bahwa yang mereka sebar tersebut berita bohong yang bisa meresahkan teman-teman beda di grup.

Bila rekan bersikeras dan semakin mengganggu, kamu dapat meminta bantu admin grup supaya menindak mereka.

Tidak ikut menyebarkan hoaks, meskipun guna klarifikasi
Ini juga teknik kritis mahasiswa hadapi hoaks. Meskipun telah tahu bahwa berita tersebut bohong dan melulu ingin mengklarifikasi, tidak boleh langsung share dari sumber aslinya. Yang ada, empunya website mendapat untung dari banyaknya view ke konten mereka.

Jika hendak sedikit repot, lumayan buat screenshot judul tulisan dan share screenshot tersebut, menyeluruh dengan klarifikasinya. Bila tidak, tidak boleh terpancing guna menyebarkan hoaks.

Inilah lima (5) teknik kritis mahasiswa hadapi hoaks. Sebagai di antara pemakai media sosial terbesar di dunia, mahasiswa mesti bersikap cerdas dan kritis terhadap berita-berita bohong semacam ini. Sumbe : https://www.pelajaran.co.id/