Serat Wulang Reh

Table of Contents

Serat Wulang Reh

Karya sastra peninggalan Pakubuwono IV yang paling tenar dan tersohor di penduduk Jawa adalah Serat Wulang Reh. Serat ini merupakan kumpulan tembang karya Pakubuwono IV sebagaimana tertera di dalam serat tersebut bagian pupuh Girisa pada/bait 24 yang bunyinya sebagai berikut;

Titi tamat kang carito
Serat wawaler mring putra
Kang yasa serat punika
Nenggih Kanjeng Susuhunan
Pakubuwono ping pat
Hing galih panedyanira
Kang hamaca kang miyarsa
Yenn lalin muga helinga

Terjemahannya;
Telah tamat apa yang diceritakan
Tulisan pantangan (aturan) kepada para putra
Yang menyebabkan tulisan ini
Adalah kanjeng Susuhunan
Pakubuwono keempat
Dalam hati diharapkan
Bagi yang membaca dan mendengar
Jika lupa semoga jadi ingat

Serat Wulang Reh ini memuat perihal pendidikan. Hal ini sesuai bersama dengan arti yang sesuai bersama dengan nama buku tersebut dan secara harfiahnya berasal dari 3 kata yakni kata serat yang berarti tulisan, kata wulang berarti pelajaran atau pendidikan dan kata reh yang berarti perintah. Apabila ke 3 kata tersebut digabungkan maka akan diperoleh suatu pengertian “tulisan perihal pendidikan yang memuat pesan-pesan moral akan budi pekerti yang menuntun ke arah sikap dan juga tingkah laku yang menuntun kearah sikap dan tingkah laku yang baik.”
Karya tersebut selasai ditulis pada hari Ahad Kliwon tanggal 19 Besar Tahun Dal bersama dengan candra sangkala yang berbunyi tata manfaat swareng nata. Candra sangkala itu merupakan bahasa sandi, yang cara menbacanya dari belakang, yang menyatakan angka tahun Jawa 1735 bertepatan bersama dengan tahun Masehi 1808
Serat Wulang Reh ditulis di dalam wujud tembang, dan udah dinyatakan di dalam Pupuh Girisa pada/bait 22, yakni sebagai tersebut ini;

Mulane sun muruk marang
Kabehing hatmajaningwang
Sun tulis,sun wehi tembang
Darapon padha rahapan
Hanggone padha hamaca
Sarta ngrasakken carita
Haja bosen den hapalna
Hing rina wengi helinga

Terjemahan;
Maka saya menasihati pada
Semua anakku
Saya tulis, saya beri tembang
Agar kalian membaca
Serta merenungkan isikan cerita (nasihat)
Jangan suntuk dan hafalkan
Hendaknya kalian ingat siang dan malam

Untuk buku Serat Wulang Reh ada dua versi yakni versi aslinya dan versi reproduksi. Versi asli dari Serat Wulang Reh ditulis langsung oleh Pakubuwono IV bersama dengan tulisan tangan, karena menggunakan tulisan tangan maka karya inilah yang terlalu asli. Sebab itulah buku versi aslinya hanya ada satu dan tidak ringan untuk didapatkan. Sedangkan untuk versi yang ke-2 adalah hasil reproduksi yang diterbitkann oleh penerbit-penerbit buku di era ini. Meskipun demikian hasil reproduksi, isikan tembang di dalam buku-buku hampir semuanya sama, karena udah terlalu baku.

Ada 2 style Serat Wulang Reh yang merupakan hasil dari reproduksi. Pertama Serat Wulang Reh, tanpa tercantum nama penulis, dan terbitan Toko Buku Indah Jaya, Surakarta pada tahun 1982. Karena bersifat tembang, Serat Wulang Reh terbagi atas lebih dari satu tembang Macapat. Untuk yang diterbitkan Penerbit Citra Jaya Surabaya, juga sama-sama terdiri atas 13 macam tembang (pupuh). Dan untuk lapisan tembang ke-2 buku tersebut tidak diurutkan sesuai bersama dengan tahapan-tahapan di dalam perkembangan hidup manusia. Jumlah pada/bait tiap tiap macam tembang pada ke-2 buku itu tidak ada perbedaan.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :