Orangtua Yang Diidolakan Anak

Orangtua Yang Diidolakan Anak

Setiap anak butuh belajar tentang informasi baru (pelajaran di sekolah), belajar tentang mengelola emosi, belajar tentang Tuhannya, dan belajar tentang hidup bersama dengan orang lain. Itu karena mereka sedang mengenal dunia. Dengan beberapa keperluan inilah, orangtua dan guru mesti jelas betul bahwa belajar, bermain, berteman, dan beribadah itu sama-sama pentingnya. Maka, berilah porsi yang sesuai kepada masing-masing tersebut.

Orangtua sering lupa bahwa anak udah belajar tentang informasi dan materi baru di sekolah. Maka, sebaiknya di rumah, orangtua beri tambahan porsi lebih besar tentang pelajaran hidup dan mengelola emosi kepada anak. Bukan melulu menyuruh mereka belajar dan belajar yang kadang-kadang berakhir bersama dengan kekesalan.

Sebisa mungkin kita tidak jadi orangtua yang dibandingkan bersama dengan guru. Sehingga anak-anak sering lebih mendengarkan guru ketimbang orangtuanya. Agar perihal selanjutnya tidak terjadi, maka peran orangtua mesti meningkat kualitasnya. Fokusnya terdapat terhadap pembelajaran tentang emosi, membagi waktu, kasih sayang, dan pelajaran tentang hidup.

Anak mesti memiliki rujukan kuat tentang kasus hidup kepada orangtuanya. Maka, orangtua bakal jadi idola.

Sedikit di antaranya, Ajari anak tentang hidup bersama dengan cara:

1. Mengajaknya berbicara.

Mengajak bicara bakal terhubung jutaan kemungkinan.

Berikan perumpamaan bakal kepedulian terhadap sesama bersama dengan mengajaknya berbicara. Dengan itu, kita dapat membuktikan langkah mendengar dan bicara yang baik. Ya, saya mengfungsikan kata “menunjukkan” karena kita mesti jadi teladan bagi anak. Nilai tambahnya adalah kita dapat beri tambahan ilmu tanpa memaksa.

Dengan mengajak berbicara, kita juga dapat membuktikan beberapa keperluan anak terhadap dirinya sendiri. Misalnya, bahwa anak butuh membereskan kamar sendiri agar tidak ada problem melacak barang miliknya sendiri, dan seterusnya.

Dengan bicara kepada anak, kita juga dapat jelas bagaimana langkah anak bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Kita juga bakal jelas bagaimana anak jelas emosi dan perasaannya, memotivasi diri sendiri, mengungkapkannya kepada orang lain, dan sesudah itu bersikap kepada sesama yang baik. Setelah itu, kita lengkapi bersama dengan pandangan positif lain yang belum mereka ketahui.

Prinsip dasarnya adalah setiap anak berhak didengarkan.

2. Membagi waktu

Setelah anak jelas tanggungjawab dan kebutuhannya sendiri, maka ajaklah anak untuk membagi saat yang dimiliki. Sekali lagi, mengajak dan bukan mengatur.

Di sekolah, jam kesibukan anak udah pasti. Di rumah, anak-anak dapat menjumpai temannya untuk bermain, dapat asik bersama dengan pc dan internet, melihat televisi, dan melakukan kesibukan lain.

Pada awalnya, mereka cuma jelas bahwa saya bebas melakukan apa saja. Ini bakal tetap berlangsung sampai kita memberitahu tentang langkah membagi saat dan manfaatnya. Ada anak yang lalai dan tetap bermain selama hari cuma karena mereka tidak mendapatkan ilmu yang cukup dan tidak jelas langkah dan pentingnya membagi waktu.

3. Controlling

Biarkan anak melakukan tanggungjawab bersama dengan caranya sendiri. Baru setelah beberapa hari, seandainya tersedia perihal yang mesti diingatkan, maka ajaklah lagi berbicara. Di sinilah tugas kita sebagai pengingat.

“Bapak/ibu menyaksikan di kamarmu, kaos kaki tersedia di rak buku. Baju berserakan di kasur. Ada apa?”. Kalau itu kasus membagi waktu, maka tanyakan, “kesulitan apa yang kamu hadapi didalam membagi waktu?” lantas rangkul, pahami, dan sesudah itu berilah solusi bersama dengan mengajaknya bertindak.

Dengan langkah ini, anak belajar memecahkan masalah. Kelak, seandainya dia hadapi kasus yang mirip, maka dia bakal mengingat langkah yang mirip yang pernah kita berikan. Di samping itu, anak juga bakal belajar tentang pentingnya bertanggungjawab terhadap tugas-tugasnya sendiri.

4. Kasih sayang

Apapun yang kita lakukan, apalagi kala marah, ingat bahwa seluruh karena kita sayang kepada anak-anak kita. Munculkan selamanya perasaan bangga dan puas bersama dengan memujinya seandainya dia berhasil didalam capai sesuatu. Bahkan kala kita marah, munculkan pertanyaan ini: Apa ya, sikapku yang tidak benar agar dia bersikap layaknya ini?

Anak-anak yang tambah nakal atau orangtua yang tambah tidak sabar?

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/