Jangan Terlalu Lebay Memuji Anak, Perhatikan Hal Ini

Jangan Terlalu Lebay Memuji Anak, Perhatikan Hal Ini – Memuji anak perlu dilaksanakan orangtua. Mendapat pujian orangtua dipercayai membuat anak percaya diri, sarat semangat, dan punya semangat tinggi berprestasi.

Catherine Scott dalam kitab “Learn to Teach: Teach to Learn” menuliskan, pujian yang tidak tepat, lagipula berlebihan atau “lebay” dapat menyebabkan anak menjadi sombong, terlalu konsentrasi pada hak, dan suka menyalahkan orang lain saat mengalami kesulitan.

Lalu memuji laksana apa yang tepat? Psikolog dan Master bidang human resources yang menelaah bidang Neuro Linguistic Programming dan Brain Development, Okina Fitriani, dalam bukunya The Secret Of Enlightening Parenting mengucapkan 5 urusan yang butuh diperhatikan:

1. Menjadi “detektif” kebajikan

Perhatikan masing-masing hari, kebajikan apa yang pernah dilaksanakan anak, meski tersebut sepele dan sederhana, laksana tersenyum saat berkata dengan orangtua, menyampaikan doa sesudah makan, rukun dengan saudara dan teman, berangkat sekolah tanpa mengeluh, atau sekadar memblokir keran air.

Sering kali orangtua memandang urusan tersebut biasa-biasa saja sampai-sampai tidak memuji si anak. Padahal memuji hal-hal kecil yang telah baik bakal memunculkan desakan anak mengerjakan hal-hal baik beda yang sama atau lebih besar.

Contohnya: “Bagus sekali Kakak sudah menempatkan sepatu di rak sepulang sekolah, lokasi tinggal kita jadi rapi.” atau “Wah…kalian berdua bermain dengan akur dan berbagi. Mama bahagia kalian saling menghargai dan menyayangi.”

2. Buatlah daftar kebaikan

Orangtua perlu menulis semua kebajikan yang pernah dilaksanakan anak, sekecil dan sesepele apapun. Ingatlah daftar kebaikan tersebut ketika anak mengerjakan suatu kekeliruan dan tidak boleh sampai kekeliruan anak yang kecil tersebut menghapus semua kebajikan yang pernah dilakukannya.

Catatan kebajikan memudahkan orangtua guna bersyukur terhadap anak. Kebanyakan konflik orangtua dengan anak diakibatkan orangtua sibuk menuntut anak mengerjakan ini dan itu, tapi paling sedikit bersyukur.

3. Memuji perilaku anak

Pujilah perilaku, usaha, dan sikap anak, bukan karakternya. Memuji perilaku, usaha, dan sikap, menciptakan anak merasa yakin bahwa ia memiliki kendali atas perilakunya. Perilaku ialah hasil usaha, bukan sesuatu yang melekat, mempunyai sifat genetik, dan tidak dapat diubah.

Dweck (2006), seorang profesor bidang psikologi di Stanford University, mengejar bahwa anak yang dipuji kepintarannya mudah putus asa saat merasakan kegagalan dan tidak berani memungut risiko.

Anak-anak yang dipuji usaha dan perilakunya, cepat bangkit ketika tidak sukses menyelesaikan suatu tugas dan mau berjuang lebih keras pada peluang berikutnya. Memuji dengan ucapan-ucapan yang berlebihan bakal mendatang rasa congkak dan menjerumuskan.

4. Menjelaskan sebab-akibat

Sampaikan konsekuensi positif dari perilaku baik itu. Menyatakan konsekuensi positif dari perilaku, usaha, dan sikap anak, berarti mengajarkan kepadanya untuk mengetahui sebab dampak dari suatu perbuatan. Pilihlah konsekuensi yang kasat mata dan bukan berupa janji.

Tumbuhkan keyakinan, bahwa tindakan baik anak bukan sekadar untuk mengasyikkan orang lain tergolong orangtuanya sendiri, namun sebagai unsur dari destinasi hidup manusia.

5. Puji dengan kalimat sederhana

Tiga, nyatakan pujian dalam kalimat simpel yang gampang dipahami. Pujian yang ditetapkan dengan kalimat sederhana menyerahkan pesan yang jelas, perilaku apa yang diinginkan dan tidak berlebihan. Selengkapnya: https://www.sekolahan.co.id

baca juga: Cara Mengatasi Rambut Rontok Dengan Cabe Rawit