Jangan Mendisiplinkan Anak!

Table of Contents

Jangan Mendisiplinkan Anak!

Setiap guru dan tiap-tiap orangtua pasti dambakan anak atau anak didiknya menjadi anak yang disiplin. Tetapi, tersedia ketentuan mutlak yang kudu diingat, “Jangan mendisiplinkan anak, tapi didiklah anak untuk menjadi disiplin.”

Mendisiplinkan anak dan mendidik anak untuk menjadi tekun itu dua hal berbeda. Kita, sebagai guru atau orangtua, cuma kudu introspeksi ke anggota mana kita bersikap.
Mendisiplinkan anak kerap berbentuk perintah daripada instruksi. Kita berharap laksanakan suatu hal kepada anak tanpa kita jelaskan bersama dengan baik kenapa dia kudu melakukannya. Tidak tersedia seorangpun yang laksanakan suatu tindakan tanpa alasan. Misalnya, kala seorang guru sedang mengajar dan tersedia lebih dari satu anak yang asik berbincang-bincang bersama dengan temannya. Maka, bisa jadi, penyebabnya adalah materi atau cara guru mengemukakan materi tersebut kurang menarik bagi anak. Sehingga dia mencari suatu hal yang lebih menarik.

Apabila kita mengingatkan anak tersebut bersama dengan kalimat “Hai, kamu, diam! Dari tadi ngobrol terus”, maka kita sedang mendisiplinkan anak. Dari sikap layaknya ini, anak cuma paham satu hal, bahwa saat ini aku kudu diam dan guru aku tidak suka.

Dalam praktiknya, anak tidak paham seluruhnya alasan dia dihukum, agar rasa takutnya diidentikkan bersama dengan orang yang menghukum. Kalau ini terjadi, anak tersebut secara umum bakal jadi risau dan tertekan. Akhirnya, dia cuma menjauhi perilaku yang membawa dampak dia dihukum, tapi juga menjauhi guru/orangtua yang menghukumnya.

Kecenderungan utama dari mendisiplinkan anak adalah kita menghukum anak tanpa berikan paham penyebabnya. Kalau hal layaknya ini terjadi, maka anak bakal tetap jadi bingung di dalam bersikap. Sikap mana yang boleh dan mana yang tidak diperbolehkan. Inilah awal dari mandeknya kreativitas anak.

Berbeda bersama dengan mendidik dan mengajari anak untuk disiplin. Kita menjelaskan kepada anak tentang alasan laksanakan sesuatu. Ketika anak ribut pas guru sedang mengajar, kita bisa menentukan kalimat berikut, “saat ini sedang belajar agama. Teman-teman lain dambakan paham materi kali ini. Kalau anda konsisten ribut, teman anda bisa terganggu”.

Dengan menjelaskan alasan atas suatu tindakan, seorang anak/siswa bakal paham kenapa dia kudu mengubah sikapnya. Dengan cara layaknya ini, anak kita dorong untuk bertanggungjawab terhadap dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Dengan sikap ini pula, anak bakal belajar bagaimana menghargai sebuah ketentuan tanpa dipaksa oleh siapapun.

Mendidik anak untuk tekun berarti melibatkan anak di dalam memecahkan masalah. Juga, mendidik anak untuk menjadi anggota mutlak di dalam menegakkan peraturan. Sehingga, di dalam menegakkan peraturan, seorang anak bakal jadi butuh untuk menegakkannya dan bukannya terpaksa.

Ingat, tiap-tiap anak dambakan belajar bersikap di dalam laksanakan sesuatu. Apabila kita cuma mendisiplinkan anak, maka dia tidak bakal belajar banyak atau apalagi tidak belajar sama sekali. Sebaliknya, jikalau kita mendidiknya agar menjadi disiplin, maka dia bakal belajar banyak hal. Kesadaran dari di dalam dirinya bakal terlihat untuk menjadi anak yang tekun dan menjadi anak yang lebih baik.

Suatu saat, berhadapan bersama dengan siapa saja dan di mana pun, anak bakal paham sebuah ketentuan bersama dengan cara yang sama yang kita ajarkan. Tentu, kita dambakan anak kita tekun kapanpun dan dimanapun. Bukan tekun dikarenakan risau kepada seseorang, bakal tapi bersikap tekun dikarenakan merupakan kebutuhan dan kesadaran.

Baca Juga :