Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat

Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat
Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat

Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat

Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat
Generasi Penerus, Fenomena Kehidupannya Dalam Masyarakat

Akhir-akhir ini, banyak keluhan orang tua terhadap perilaku anaknya

misalnya ‘anak sulit dikendalikan’, ‘anak nakal dan berbuat sesuka hati’, ‘anak tidak mau mendengarkan’, sering terjadi perkelahian/tawuran/konflik antar pemuda/i’, dsb. Ini menjadi fenomena umum terkini, padahal akses pendidikan kita makin maju. Apakah pihak sekolah mendidik siswanya menjadi tukang tawuran? Tentu tidak demikian. Tetapi, mengapa permasalahan ‘krisis remaja’ itu terjadi?

Riberu (1984:49) menyatakan bahwa “seorang remaja menjauhi orang lain yang tidak sepaham dengannya”. Anak remaja lebih suka melihat ke dalam dirinya (introvert). Hal ini terjadi karena ia berada dalam tahap perkembangan, baik fisik maupun mental. Ia belum kaya akan pengalaman. Maka, terjadilah anak remaja melawan orang tua!

Bentrokan sering terjadi karena salah persepsi dan senjang generasi (Riberu, 1984:79). Dijelaskan bahwa bentrokan sering terjadi karena ‘salah sambung’. Artinya, terjadi perbedaan persepsi, salah persepsi. Di sini, orang tua dipaksakan untuk memahami kehidupan remaja. Namun, sebaliknya remaja dituntut harus memahami ‘tolok ukur’ yang diakui orang tua atau khalayak umum.  Ketidakseimbangan anatara kehendak orang tua dan ‘gejolak bathin remaja’ inilah yang menimbulkan situasi ‘salah sambung’, sehinga terjadi konflik.

 

Konflik antar remaja, mengapa terjadi?

Krisis remaja terjadi karena adanya gejolak bathin yang dialami muda-mudi. Gejolak ini menyebabkan muda-mudi gelisah, tidak tenang, berontak dalam bathin, malahan berontak secara terbuka.

Remaja (muda/mudi) mulai bersikap acuh, kurang taat, sulit dikendalikan, sulit menerima masukan dari orang tua, dsb. Dalam taraf ekstrim, akan terbentuk pribadi remaja yang berperilaku liar, menjadi pengacau dan pembuat kerusuhan. Adanya sifat sulit menerima masukan atau sulit mendengar pendapat orang lain menimbulkan konfli antar remaja.

 

Bagaimana mendidik remaja?

Remaja dididik melalui perbuatan nyata. Mendidik seorang remaja, sulit memakai kata-kata, karena anak remaja cenderung bersikap tak acuh dan tidak mau mendengar masukkan/pendapat orang lain, tidak mau didikte.

Masa remaja merupakan masa dimana seorang mulai mengeksplore pengalaman dan mulai menunjukkan perannya. Masa remaja penuh dengan ide, sehingga disebut idealis.

 

Salah satu cara adalah

Membiarkan dia berbuat, mewujudkan idenya dan meminta dia untuk tidak lari dari tangggung jawab, menerima segala resiko dari perbuataanya. Dengan demikian, ia akan belajar dari pengalaman, ia membangun makna atas suatu peristiwa. Pemaknaan inilah yang akan menjadi modal perbaikan diri selanjutnya. Hal ini sudah banyak di lingkungan masyarakat bahwa seseorang yang pada waktu muda dikenal ‘nakal’ bahkan ‘bengal/bandel’, lalu kemudian jadi sukses.

Namun tidak semua anak nakal itu sukses. Bisa saja, kenakalan itu berdampak sangat buruk, menimbulkan kelainan mental bahkan cacat fisik. Di sini, peran orang tua adalah mengarahkan, memberi peringatan akan resiko dari perilaku seorang remaja. Dibutuhkan ilmu dan seni penyampaian dari orang tua kepada remaja, agar mereka bisa menerima pendapat orang tua.

Baca Juga :