Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya

Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya
Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya

Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya

Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya
Aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya

Filsafat pendidikan idealisme

menekankan pada keberadan “idea” yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Idealisme ialah filsafat yang pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide atau diciptakan oleh ide. Dalam K13 penerapan aliran ini dalam bentuk penerapan penilaian afektif yang ditempatkan sebagai unsur penilaian yang utama daripada kognitif dan psikomotor. Afektif berdasarkan pada aliran idealisme yang menekankan pada nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Nilai-nilai luhur inilah yang dianggap penting dalam pendidikan.

 

Filsafat realisme menekankan pada keberadaan fakta

sebagai sesuatu yang penting. Realisme menentang pendapat idealisme yang menyatakan bahwa yang real adalah idea, menurut realisme idea hanyalah persepsi manusia yang keberadaannya sangat subyektif. Oleh karena itu sesuatu yang real adalah fakta. Dalam K13 penerapan metode saintifik merupakan contoh aplikasi filsafat realisme ini dalam pendidikan. Dimana metode saintifik dimulai dari proses mengamati sesuatu yang bersifat konkret yang berupa gambar-gambar, slide presentasi atau video. Sehingga dari sesuatu yang konkret tersebut siswa dapat memulai proses belajar.

 

Filsafat materialisme menekankan pada keberadaan materi

dalam kehidupan manusia. Materialisme memandang bahwa materi terlebih dahulu ada sedangkan ide atau pikiran timbul setelah melihat materi. Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi menentukan ide bukan ide menentukan materi. Contoh penerapan filsafat meterialisme dalam K13 adalah keberadaan materi seperti bahan ajar berupa modul, buku referensi, video dan lain sebagainya. Selain itu berupa saranan prasaran yang mendukung proses belajar mengajar seperti ruang kelas, meja, kursi, papan tulis, alat-alat tulis, termasuk sarana komputer dan lain sebagainya. Benda-benda tersebut sangat penting agar proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan lancar. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional keberadaan benda-benda ini diatur dalam standar sarana.

 

Filsafat eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus

mendeskripsikan eksistensial dan pengalaman manusia dengan fenomenologi atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme terhadap manusia adalah manusia merupakan benda, manusia adalah materi, manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi subyek. Pandangan manusia menurut idealisme, manusia hanya sebagai subyek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkeyakinan situasi manusia selalu berpangkalkan eksistensi sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan gambaran-gambaran yang konkret. Bagi eksistensialisme, individu bertanggung jawab atas kemauannya agar manusia menjadi dirinya, dan mengalami individualitasnya. Penerapan eksistensialisme dalam pendidikan adalah dengan penerapan langkah kedua dari metode saintifik yaitu menanya. Pada langkah ini siswa diharapkan dapat mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Membuat pertanyaan merupakan salah satu bentuk dari eksistensialisme. Dimana siswa yang tidak mampu bertanya berarti siswa yang belum berhasil menemukan eksistensi dirinya. Oleh karena itu penting dalam K13 agar siswa dapat mengamati dan kemudian dari pengamatan tersebut ia dapat merumuskan suatu pertanyaan sebagai bukti eksistensi dirinya dalam proses belajar mengajar.

 

Filsafat progresivisme merupakan

aliran filsafat yang berorientasi pada kemajuan (progres) dalam kehidupan. Keadaan saat ini harus lebih baik dari masa yang lalu. Jika ini yang terjadi maka telah terjadi progres dalam kehidupan manusia. Dahulu sebelum ditemukan mesin, segala sesuatu dikerjakan dengan tangan manusia. Namun sekarang berkat revolusi industri yang terjadi di Inggris, telah terjadi perubahan besar dalam kehidupan manusia dimana mesin telah menjadi sesuatu yang dominan dalam kehidupan manusia. Menurut aliran ini pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada peserta didik tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka secara sedemikian rupa sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah seperti memberikan analisis. Penerapan aliran ini dalam K13 adalah pada langkah ke tiga dan keempat yaitu mengasosiasi dan menalar. Dalam kegiatan mengasosiasi diharapkan siswa dapat menghubungan fakta yang ia ketahui melalui pengamatan dengan teori-teori yang teradapat pada buku referensi. Sehingga timbul kesinambungan atara fakta dan teori. Kemudian pada tahap menalar diharapkan siswa dapat menggunakan fikirannya untuk menganalisis konsep, fakta atau prosedur yang ia pelajari. Sehingga muncul kemajuan di dalam dirinya. Filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progress dan bertindak scara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis. Dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan siswa yang aktif bukan guru. Sehingga dalam K13 model-model pembelajaran yang digunakan adalah model yang menekankan pada keaktifan siswa, peran guru hanya sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran.

Filsafat perenialisme merupakan anti tesa terhadap aliran progresivisme. Perenialisme mengajak manusia untuk kembali kepada nilai-nilai luhur yang telah dikembangkan oleh filosof-filosof terkemuka seperti Plato dan Aristoteles. Nilai-nilai luhur umat manusia inilah yang coba dikembangkan kembali oleh aliran perenialisme. Dalam K13 penerapan aliran ini dapat diketahui dari dipentingkannya penilaian afektif atau sikap dalam pembelajaran. Dengan sikap yang baik diharapkan siswa dapat menjadi individu yang sukses dalam kehidupannya. Banyak orang yang pintar namun karena pemikirannya terlalu progresiv sehingga ia melupakan nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Terlalu mementingkan materi, terlalu individualis dan terlalu berpusat pada diri sendiri (ego sentris) ia lupa bahwa ia hidup dalam masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, tenggang rasa, saling menghormati dan lain sebagainya. Inti dari K13 adalah menciptakan siswa yang baik akhlaknya, unggul sikapnya sehingga mampu bersaing di seluruh dunia.

Sumber : http://bupropion.lo.gs/contoh-teks-eksplanasi-singkat-a165655880